Pada awalnya kita atau sebut saja aku dan kamu saling bertanya-tanya kenapa. Kenapa aku bisa dengan mudahnya memilih kamu dan kamu juga bisa dengan mudahnya mengatakan “IYA” kepadaku.
Beberapa kali aku mencoba bertanya kepadamu, tapi kamu hanya tersenyum atau sekedar tertawa kecil dan ketika kamu menanyakan kembali hal yang sama kepadaku aku juga tidak bisa memberi jawaban pasti, aku tidak bisa menjelaskan panjang lebar kenapa aku memilih kamu.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengusik, dan terkadang menghasutku untuk mengorek semua ketidaksempurnaanmu untuk dijadikan alasan agar aku menyesal, menyesal telah memilih kamu. Suatu hal yang pada akhirnya aku sadari sebagai hal yang sangat bodoh.
Ditengah kebingungan itu, kadang aku menjadikan naluri yang telah menuntunku menapaki hidup hingga usia dua puluh tahun ini sebagai jawaban, nalurilah yang membuatku memilih kamu. Tapi jawaban itu tidak cukup kuat untuk membungkam pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali datang dan tetap mengusik mencoba mencorat-coret hal-hal baik yang sengaja aku gambarkan tentang kamu. hingga pada akhirnya suatu perasaan lain muncul membungkam setiap tanya yang tiba-tiba datang tentang alasan-alasan itu, alasan kenapa aku memilih kamu.
Perasaan-perasaan itulah yang sekarang membuatku berpikir bahwa alasan-alasan tidak lagi penting dalam memilih seseorang untuk dicintai. Karena kadang kita memang tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang.
Perasaan itu, perasaan yang tidak lagi membuatku berpikir tentang alasan ketika aku benar-benar meyakinkan diri untuk memilih kamu.
Perasaan itu selalu muncul secara spontan di setiap hal yang aku lewati denganmu, datang begitu saja dan membuat semuanya menjadi terasa lebih indah dari biasanya.
Perasaan itu selalu muncul ketika kamu tiba-tiba melintas di pikiranku, ketika aku mendengar tawa renyahmu di ujung telepon sana setelah mendengar hal-hal garing yang aku ceritakan, ketika aku melihat ekspresi kaget wajah kamu saat aku tiba-tiba muncul di depan pintu kost-mu, dan perasaan itu juga yang membuat aku tersenyum-senyum sendiri ketika aku membayangkan kita berdua duduk di teras belakang rumah, bercerita dengan penuh tawa sambil mendengarkan lagu yang kita suka dan ketika lagu itu telah habis kamu bilang “Yah, lagunya udah abis… Puter lagi yuk…”.
Aku menyebut semua perasaan itu bahagia. Bahagia, itulah satu kata sederhana atas jawaban yang selama ini aku cari. Jawaban sederhana yang sudah seharusnya dari awal aku pikirkan karena bahagia lebih dari sekedar alasan kenapa aku mau memilih kamu dan mencoba meyakini kamu sebagai teman hidupku suatu hari nanti.
Buat kamu, Debby Eko Wahyuni dari seorang laki-laki yang sedang belajar mencintaimu dengan baik dan benar.

aku suka …