Jilbab, dari Sisi Gelap Dunia Fashion

Posted: 25 Maret 2014 in Menulis Dengan Otak yang Benar-Benar Bekerja

Sebelum tulisan ini saya lanjutkan, mari kita bersama-sama menyamakan persepsi kita tentang Jilbab. Jilbab secara umum adalah kain penutup kepala (yang seharusnya) dipakai dengan memanjangkannya menutupi dada dan bagian-bagian tubuh yang seharusnya memang ditutupi. Yah, kurang lebih seperti itu lah.

Masih ingat bebarapa belas tahun yang lalu ?. Berapa banyak orang di lingkungan kita yang memakai jilbab secara konsisten pure syari’at ?. SANGAT JARANG. Yah, kala itu (mungkin jika kalian sudah lahir) kita masih sangat jarang menjumpai orang yang memakai jilbab secara konsisten di kesehariannya. Tahun demi tahun, setelah trend fashion kian berganti dari “A ke Z”, kemudian “Z ke A” lagi, akhirnya kini memasuki dekade 2010-an jilbab seolah menjelma menjadi salah satu dresscode anak gaul masa kini dengan berbagai model dan rupa. Dengan mudahnya kita menjumpai Wanita yang memakai jilbab (entah memang hanya karena kewajiban, hanya sebatas tuntutan sosial, atau hanya agar terlihat up to date).

Tidak ada yang salah dengan wanita yang terbawa euphoria ini dan tiba-tiba memakai jilbab. Dan saya pribadi juga menyambut baik semua ini. Di jalan, di pusat perbelanjaan, di sudut remang-remang (bersama pacarnya), di sebuah gigs musik keras skena bawah tanah, bahkan di studio tato sekalipun bisa kita temui perempuan yang memakai jilbab. Seriously, saya pernah mendapat gambar dari sebuah akun twitter majalan tato lokal yang memperlihatkan seorang wanita berjilbab yang (mungkin) sedang mentato huruf hijaiyah di tangannya. Yah, barang kali saja, namanya juga khusnudzon.

Saya tidak ada masalah dengan orang-orang yang pake jilbab karena mereka benar-benar ingin menyempurnakan Ibadahnya di mata Tuhannya, terlepas benar tidaknya cara mereka memakai jilbab ataupun perilaku mereka di luar jilbab mereka. Yang jelas di hati mereka masih terbesit niat untuk mengikuti syari’at dan kewajiban agama, karena menutup aurat adalah sesuatu yang sangat wajib dan krusial jika kamu memilih menjadi orang islam. Dan alangkah akan sangat-sangat baik jika euphoria jilbab saat ini adalah euphoria yang berlandaskan niat untuk mengikuti syari’at dan kewajiban agama, bukan sebatas pengakuan sosial, dan terlihat kekinian.

Jika dikembalikan ke sudut pandang agama, fungsi utama dari pakaian adalah sebagai penutup aurat, adapun estetika adalah tujuan sekunder dari berpakaian. Atau dapat dikatakan percuma berpakaian bagus, mahal, brand terkenal dunia akhirat tapi fungsi utamanya nihil, aurat kalian tidak tertutupi dengan seharusnya, orang-orang masih leluasa melihat bagian tubuh kalian yang seharusnya kalian sembunyikan dengan baik.
Adalah sesuatu yang wajar dan sangat-sangat tidak salah bila kita semua pasti dalam berpakaian juga tidak hanya sekedar ingin menutupi aurat saja, tapi juga ingin memperhatikan nilai estetika dari pakaian yang kita kenakan. Akan tetapi semakin ke sini, di tengah-tengah euphoria jilbab-jilbaban ini, ada hal yang bergeser di mana fungsi primer dari sehelai jilbab mulai coba ditutupi oleh nilai sekundernya. Semua saling berlomba untuk hanya ingin terlihat bagus, glamour, up to date dan bernilai estetika tinggi tanpa memperhatikan apakah aurat mereka sudah tertutup dengan baik atau belum.

Secara fungsional, jilbab adalah sebagai penjaga aurat para wanita agar mereka terlihat lebih berharga, mulia dan terhormat. Tapi apa yang kita jumpai sekarang, kebanyakan trend jilbab-jilbaban justru megalihfungsikan jilbab dengan segala style dan aksesorisnya menjadi sebuah perhiasan yang terlihat mencolok, eyecatching dan sangat glamour yang sudah tentu melenceng jauh dari nilai-nilai yang seharusnya. Perilaku konsumtif dan rasa ingin terlihat up to date mendorong jilbab style glamour kekinian semakin tumbuh subur di sekitar kita.
Jilbab adalah pakaian kesederhanaan. Dan Seharusnya seorang wanita yang memutuskan untuk memakai jilbab di kesehariannya adalah wanita yang mengerti betul apa esensi dari pakaian yang dia kenakan. Jilbab adalah manifestasi dari ketaatan seorang muslimah kepada tuhannya untuk menutupi auratnya dengan baik yang seharusnya mencerminkan kesederhanaan dan ketaatan yang kaffah, bukan keglamouran yang terlihat seperti orang yang menjemur bedcover di kepala. Jilbab bukan tentang status sosial, juga bukan tentang seberapa melek kita akan trend fashion kekianian dan seberapa mampu kita mengikutinya.
Oke, saya memang tidak punya hak untuk mengatur-atur orientasi dan selera fashion kalian, dan saya juga tidak berhak mengatur kalian untuk jenis pakaian macam apakah uang kalian yang banyak itu harus kalian belanjakan. Saya hanya ingin ocehan saya ini dibaca dan mudah-mudahan dapat membuka mata kita semua tentang euphoria jilbab-jilbaban yang ada sekarang ini dan dapat membuka celah pertanyaan dalam diri kita tentang esensi dari apa yang kita kenakan.

Saat ini mungkin kita menjumpai trend jilbab dengan segala keglamourannya. Bukan tidak mungkin beberapa waktu ke depan Jilbab glamour-glamouran sudah tidak trend lagi dan yang akan trend adalah “Hijab With Chicanos Tattoo ala brandal meksiko” dan setelah itu akan terlihatlah siapa yang gaul dan yang tidak. Bweheheh….

Menjadi atau setidaknya mencoba untuk terlihat cantik dan indah sama sekali tidak dilarang oleh agama selama masih mengikuti ketentuan-ketentuan-Nya, but… real make up is your knowledge and attitude. Mencoba menjadi lebih cerdas untuk mengerti esensi dari apa yang kita kenakan jauh lebih penting dari pada menjadi budak fashion demi sekedar sebuah label “gaul” dan kekinian.

Respect to wanita with “Jilbab Biasa-biasa Saja”. Wanita With “Jilbab Biasa-biasa Saja” are so cool, mereka cukup cerdas untuk tidak dibodohi fashion dan setidaknya mereka juga cukup cerdas untuk mengerti bahwa esensi dari memakai jilbab adalah syar’i-nya, bukan style dan kebutuhan atas pengakuan sosial dari orang-orang di sekitarnya. Wanita With “Jilbab Biasa-biasa Saja” are so cool karena mereka cukup berani untuk dibilang nggak up to date oleh orang-orang dio sekitarnya.

Ditulis hingga selesai dengan penuh kesadaran sambil mendengarkan lagu “Citra Natural” dari Seringai, entah hingga ulangan ke berapa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s