Lebaran

Posted: 10 Agustus 2014 in Lagi Kepengen Nulis

Lebaran memang sudah bisa dibilang sudah lewat, dan tulisan ini juga sebenernya sudah ditulis saat masa euforia lebaran masih benar-benar terasa kental, sekental kuah opor yang sudah dipanasi yang ke-13 kalinya. Tapi berhubung jaringan yang sangat-sangat tidak mendukung untuk membuka blog, jadinya ya baru bisa diposting sekarang. Sebenarnya ingin rasanya bisa rajin buka-buka blog, berinteraksi dengan bloger-bloger lain, aktif menulis, dan mengeluarkan komentar seenak perut sendiri atas segala hal di dunia ini yang saya rasa kurang pas hingga saya kehabisan kata-kata. Tapi semuanya kembali lagi ke awal…. sinyal, masalah klasik bagi warga yang tinggal di kluster terpencil perkebunan kelapa sawit yang di belakang rumahnya sering berseliweran monyet, macan akar, babi hutan, dan sesekali biawak yang muncul dari lubang WC.

Lebaran kali ini sangat beda. Lebaran dengan status sebagai seorang suami sekaligus sebagai seorang calon ayah labil yang sedang belajar membetah-betahkan mata membaca buku parenting. Biar apa ? yah… tentu saja biar anak saya nanti punya kesempatan diasuh dengan pola didikan yang jauh lebih baik dari orang tuanya. Bersyukur juga karena masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan ramadhan dan lebaran yang yang ke-22 kalinya dalam hidup saya, karena belakangan menjelang akhir ramadhan kemarin tiba-tiba banyak mendapat kabar duka tidak terduga dari orang-orang dekat. Mereka hampir saja menjumpai hari fitri terakhir dalam hidup mereka, namun Alloh sudah memanggil mereka sebelum mereka benar-benar menemuinya.

Seorang perempuan paruh baya, kami warga komplek sering memanggilnya Bibik. Beliau sudah kami anggap seperti orang tua kami sendiri. Ketika saya belum menikah Selalu memasak sarapan, makan siang, makan malam, dan memanjakan kami dengan kue-kue buatan beliau yang membuat lidah kami merasa seperti tersesat di dapur Ibu kami sendiri. 4 Hari sebelum lebaran beliau dipanggil Alloh karena kanker rahim yang telah puluhan tahun menggerogoti rahim beliau dan baru ketahuan beberapa bulan terakhir.

Besoknya…

Seorang teman, maniak touring motor yang ramah religius, dan seorang safety riding freak yang selalu mengajak saya untuk touring bareng namun belum pernah kesampaian. Dia dipanggil Alloh 3 hari sebelum lebaran setelah sepeda motor yang dikendarai bersama adiknya menabrak sebuah mobil pick-up berkecepatan tinggi yang menyerobot jalur kanan di sebuah tikungan di pinggiran lampung. Si kakak tewas di tempat tanpa ada tetesan darah di tubuhnya, adiknya masih sempat dibawa ke rumah sakit sebelum akhirnya ikut menyusul kakaknya. Seorang safety riding freak yang sudah memiliki jam terbang touring yang tinggi tewas dalam kecelakaan lalu lintas 3 hari sebelum lebaran sudah lebih dari cukup untuk mengingatkan kita bahwasannya maut memang terlalu random dan bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja.

Sangat bersyukur juga karena lebaran tahun ini saya akhirnya sudah bisa lolos dari tiga pertanyaan horor ala lebaran.

1. Kapan lulus ?
2. Kapan Nikah ?
3. Kapan nih punya anak ?

Oke, kalau memang cuman sekedar nanya “Kapan Lulus kuliah” itu mungkin masih dalam batas wajar mengingat perkara lulus kuliah sudah punya parameter yang jelas. Ya kalo sudah selesai sidang skripsi pastinya sih sudah bisa dibilang lulus. Beda dengan pertanyaan orang tentang “Kapan nikah” dan “kapan punya anak”. Menikah parameternya bukan sekedar tentang kecukupan usia, dan punya anak juga parameternya bukan tentang seberapa lama usia perkawinan. Pertanyaan-pertanyaan retoris khas lebaran model seperti ini memang bukan untuk tujuan serius, tapi lebih kepada bentuk perhatian orang-orang dekat kepada kita, jadi kita tidak perlu dipusingkan dengan kata-kata apa yang harus kita keluarkan untuk menjawabnya.

“Kapan nih punya anak….?”
“Wah… sabar om, ini juga lagi nyicil… saya bikinnya kastem sih, jadi part-nya mesti pesen… ini kupingnya masih indent…”

Kalau kita masih sering disuguhi pertanyaan seperti itu waktu lebaran, disyukurin aja. Itu tandanya masih banyak orang yang perhatian dengan kehidupan kita. Beda dengan orang yang pas silaturrahmi lebaran justru ditanya-tanya masalah rumus faktor keretakan pesawat habibi atau disuruh menjelaskan hukum termodinamika serta contoh pengaplikasiannya dalam memasak rendang.

Lebaran kali ini saya tidak mudik, walaupun dalam hati sebenarnya ingin. Cuti sudah habis berbulan-bulan lalu, dan istri tengah hamil muda yang terlalu beresiko jika dibawa ke perjalanan jauh melelahkan seperti itu.

Bangko – Jambi, lima jam perjalanan darat
Jambi – Jakarta, Lima puluh menit dengan pesawat
Jakarta – Palangkaraya, 1 jam 45 menit di pesawat
Palangkaraya – Sampit, 4 Jam Perjalanan darat lagi
Semua itu belum termasuk waktu transit, istirahat di jalan, dan lain-lain.

Syukurlah sekarang sudah ada alat transportasi yang bernama pesawat udara. Kalau semua jarak itu ditempuh tanpa pesawat maka Jika saya yang tadinya jomblo pada saat memulai perjalanan mudik, sesampainya di rumah saya sudah punya anak tiga, dan yang paling bungsu sudah sarjana, menikah dan tengah hamil muda. Yah… bisa jadi.

Tidak pulang kampung alias mudik berarti otomatis harus mengadakan open house, menyediakan makanan atau kue-kue ringan dan membukakan pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja yang ingin bertamu, walaupun pada kenyataannya tidak banyak juga yang datang. Hanya beberapa gelintir tetangga komplek yang juga tidak mudik menyempatkan diri datang ke rumah. Tanpa Ketupat dan Opor ayam, wajar kalau hidangan lebarannya tidak sesuai template pada SOP penyediaan hidangan lebaran susunan fakultas Tarbiah Harvard University, namanya juga lebaran pertama bareng istri, pertama kali mengadakan open house, jadi Jam terbang masih rendah.

Ada enaknya juga tinggal di komplek dengan orang-orang dari latar suku yang berragam, jadi otomatis hidangan lebaran pun jadi ikut beragam mengikuti ciri khas daerah masing masing. Di rumah sini ada tekwan, empek-empek, sebelah sana ada lontong medan, sementara di rumah yang lain lagi ada empek-empek yang dimakan dengan lontong medan dan tekwan sekaligus.

Silaturahmi lebaran biasanya juga dimanfaatkan oleh oknum-oknum jomblo oportunis sebagai modus mencari jodoh, seperti saya pada lebaran tahun lalu. Memang, silaturahmi lebaran adalah the best modus ever for looking jodoh. Atau setidaknya mencoba sedikiit saja menjadi lebih dekat dengan orang yang kita suka semenjak fir’aun masih memakai celana Alien Workshop. Kalo beruntung, modus bisa berhasil dan bisa berlanjut sampai ke pelaminan. Istri saya sekarang juga bisa dibilang adalah hasil dapat dari modus silaturrahmi lebaran. Satu sekolah dari jaman SMP sampai SMA tapi nggak pernah saling ngobrol, cukup sekedar tau nama dan sekedar senyum tipis setengah terpaksa sewaktu kami tidak sengaja berpapasan. Baru pada saat lebaran tahun 2013 kemarin sempat sedikit saling ngobrol sewaktu dia bersilaturrahmi ke rumah dengan teman-temannya. Setelah mendengar rekomendasi dan masukkan dari banyak orang dan karena rasa takut serta khawatir kalau anak-anak saya nanti kehilangan kesempatan untuk punya Ibu sekwalitas dia, akhirnya saya putuskan untuk melamar dia. Lagi pula inilah yang namanya wujud kasih sayang saya sebagai orang tua kepada anak-anaknya bahkan sebelum anak-anak saya lahir, yaitu denagn memilihkan calon ibu yang terbaik untuk mereka. Entah karena dia terlalu lugu atau bagamaina ujung – ujungnya lamaran itu juga dia terima. Alhamdulillah, lima bulan kemudian kami akhirnya menikah tanpa berpacaran seperti orang kebanyakan, bahkan tanpa pernah sebentarpun saling telepon, saling tanya kabar, saling tanya sudah makan apa belum, kamu pake celana dalam warna apa dan ukuran dada kamu seberapa. Hahaha

Saya memang bukan tipikal orang yang terlihat religius, kemana-mana memakai baju koko, celana bahan tinggi se betis, peci dan jidat kebiru-biruan akibat rajin sujud. Justru saya lebih terlihat seperti laki-laki umur 20-an korban MTV yang mencoba menolak untuk menjadi tua secara tuntutan sosial. Saya hanya menganggap pernikahan adalah hal yang paling sakral dalam hidup saya, dan untuk hal ini saya mencoba menguatkan iman untuk percaya bahwa segala sesuatu yang dimulai dengan “melanggar” rambu-rambu agama ujung-ujungnya tidak akan pernah barokah.
Saya tidak ingin menjadi polisi moral yang menjudge bahwa orang yang berpacaran adalah sepasang pendosa karena saya sendiri juga bukan orang suci yang bersih dari dosa. Intinya saya hanya ingin pernikahan dan keluarga saya barokah dari awal hingga akhir yang secara simpel dirumuskan seperti ini :

Tidak Terlalu Kenal >> Menikah >> Belajar Saling Mengenal >> Belajar Saling Menerima >> Barokah

Kalau dipikir-pikir agak kurang logis, menikah dengan orang yang tidak terlalu kita kenal dan hanya pernah saling berbicara di sebuah silaturrahmi lebaran. Tapi saya percaya, kebarokahan Alloh memang biasanya datang dari hal-hal yang menurut kita tidak logis.

Namanya lebaran pasti tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya minta maaf ke semua orang yang kita kenal. Semenjak era sosial media seperti sekarang ini, ada yang hilang dari esensi meminta maaf. Jika dulu kita masih sering menerima kartu lebran yang sifatnya lebih personal, sekarang semenjak era sosial media meminta maaf jadi terasa kurang personal, semuanya hanya berlomba meminta maaf ke lebih banyak orang tanpa perlu tau apakah permintaan maaf kita diterima atau tidak. Entah itu dengan cara men-“tag” banyak orang di sosial media atau dengan mem-“broadcast” pesan permintaan maaf dengan kata-kata puitis dan copy paste tulisan-tulisan arab yang kadang saya juga nggak paham artinya apa.

“….Ketika tangan tak mampu menjabat…. “
“….Ketika mulut tak mampu berucap…”

Situ kena setruk cuy…??

Esensi minta maaf yang sebenarnya adalah yang meminta maaf ikhlas mengakui kesalahan-kesalahannya dan yang dimintai maaf ridho memaafkan tanpa perlu kata-kata puitis panjang lebar. Alangkah baiknya untuk mendukung rasa ikhlas itu permintaan maaf sebisa mungkin dilakukan dengan cara yang lebih personal, sebisa mungkin melakukan kontak secara pribadi orang yang bersangkutan dengan bahasa yang sederhana dan cukup mudah dipahami.

Kata “Mu’UpHiN q eA….” Mungkin lebih dari sekedar sederhana jika kamu hidup di kalangan orang-orang yang memang berbahasa seperti itu.

Sudah 4 lebaran terakhir saya mencoba minta maaf dengan cara yang lebih personal. Entah itu via telepon, SMS, atau sosial media ke orang-orang yang saya kenal dan kebetulan tidak bisa bertemu langsung dengan orangnya. Sebagian besar merespon balik walaupun dengan balasan “Y Sm2”, tapi respon yang diterima tetap lebih personal dibandingkan jika kita cuma kirim broadcast pesan permintaan maaf ke mana-mana atau posting sesuatu di lima penjuru sosmed dan tag ke banyak orang.

Memang cukup melelahkan mengirim pesan minta maaf ke banyak orang, walaupun ada beberapa kalimat yang bisa dicopy paste. Saya yakin, dengan dikirimi pesan dengan lebih personal si penerima akan merasa lebih dihargai dan biasanya setelah sesi minta maaf akan berlanjut ke pembicaraan-pembicaraan lain di luar konteks minta maaf, minimal saling tanya kabar atau mentok-mentoknya bisa juga pinjam duit. Di balik setiap karakter-karakter yang kita ketik, di balik sebuah kata-kata sederhana yang kita susun, dan di balik beberapa kalimat yang coba kita kirim ke seseorang secara personal, di situ terdapat rasa ikhlas . Ikhlas itu memang sederhana, namun cukup membuat jempol pegel. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s