Ingin Hati… Apa Daya Tangan…

Posted: 24 September 2014 in Lagi Kepengen Nulis, Menulis Dengan Otak yang Benar-Benar Bekerja

“Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai…..”

Kita semua pasti pernah mendengar peribahasa klasik itu, yang memaksudkan bahwa kadang kita memiliki kemauan yang di luar kemampuan kita, bahkan sangat-sangat jauh dari kemampuan kita untuk

kita realisasikan.
Dan kita semua pasti juga pernah merasakan sakit mana kala kita mengetahui realitas bahwa hal-hal yang kita inginkan ternyata memang benar-benar tidak mungkin kita peroleh. Bagi tuhan memanglah tidak ada yang tidak mungkin, tapi bagi manusia pasti tetap ada hal-hal yang tidak mungkin. Dan seiring berjalannya waktu, seiring rasa sakit dan kecewa yang kita dapat, akhirnya kita sadar dan otak kita menjadi cukup cerdas untuk mengetahui bahwa di dunia ini memang ada hal-hal di luar kemampuan kita yang tidak bisa kita dapatkan walaupun kita berusaha semaksimal mungkin hingga titik darah penghabisan.

Kapasitas berfikir kita sebagai manusia kadang membuat kita cukup merasa teraniaya ketika qodar tuhan tak sejalan dengan yang kita harapkan. Dan saat itulah keimanan kita diuji. Kekecewaan ada mungkin juga karena kapasitas hati kita yang terlalu sempit untuk menerima realitas. Hati kita terlalu sempit untuk bersyukur dan akhirnya buta untuk melihat alternatif hidup yang lain.

Maksud ingin punya mobil Lamborghini Adventador, namun apa daya uang kita sangat-sangat tidak mencukupi untuk membayar DP, maka masih ada Daihatsu Ayla ataupun Suzuki Katana yang masih jauh reachable dan jauh lebih mungkin untuk dibeli secara cash ataupun DP Seperempat.

Begitulah kira-kira contoh nyatanya. Kemampuan kita untuk bersyukur dan menerima atas apa yang kita dapat pada akhirnya juga dapat menuntun kita untuk menemukan alternatif jalan hidup yang lain.

“Maksud hati ingin…. Apa daya Tangan…”

Itu adalah kutipan dari Sammy Bramantyo, tukang betot bass dari band cadas SERINGAI dalam film dokumenter “Generasi Menolak Tua”. Sebuah film yang pada awalnya saya tonton bersama istri saya beberapa waktu lalu di laptop, namun belum setengah film berjalan dia sudah tidak tahan karena banyak maksiat yang dipertontonkan di sana (Katanya), terlebih saat scene yang memperlihatkan Rian Pelor vokalis Dagger Stab (CMIIW) minum berbotol-botol bir yang dituangkan oleh Arian13 dari sebuah corong dan selang layaknya tukang bensin eceran menuangkan bensin ke sebuah tanki motor.
“Aku nggak tahan nonton tayangan kaya gini…. “ katanya, sambil memalingkan wajah dari layar laptop.

Huftttt……..

Memang, di bulan-bulan awal usia pernikahan kami banyak konflik yang terjadi akibat hal remeh temeh mengingat basicly kami adalah dua tipikal manusia yang berbeda. Dia tipikal akhwat-akhwat bergamis jilbab lebar lagi berakhlakul karimah, sementara saya adalah seorang anak awal 20-an korban MTV yang hingga saat ini masih mencoba untuk menolak menjadi tua secara standar orang kebanyakan. Hal-hal sepele bisa menjadi konflik, misalnya perkara saya suka pake kaos metal, kemeja flanel buluk, dan main gitar listrik listrik dengan distorsi maksimum. Tapi itulah pernikahan, ketika pasangan hidup kita adakalanya tak sesuai harapan, maka saat itulah kita harus belajar saling menerima, saling memperbaiki dan saling melengkapi.

Skip.. skip…

Dalam salah satu scene film “Generasi Menolak Tua” , Sammy Bramantyo bercurhat bahwasannya sebenarnya dia adalah anak band yang terjebak dalam kultur anak kantoran. Dia begitu ingin bekerja full time sebagai musisi cadas, namun apa daya…. untuk benar-benar bisa survive dan hidup (menurut standar dia) dia harus pula bekerja sebagai anak kantoran. Memang, sebagian besar dari kita bahkan saya sendiri juga merasa memiliki kesamaan dengan si Sammy. Kerja jauh melenceng dari passion sesuai dengan yang di idam-idamkan. Peribahasa kontemporernya sih “Ingin hati menjadi Polwan, tapi apa daya ku hanyalah seorang lelaki”.
Dari kecil suka menggambar dan berangan-angan ketika dewasa nanti bisa kerja di suatu bidang yang minimal ada nyerempet-nyerempetnya dengan menggambar yang di kemudian hari saya tahu bahwa orang yang kerjanya gambar itu adalah desainer grafis.

Passion is Passion, Kerja ya kerja….

Ada kalanya kita memang harus tetap bersyukur walaupun kita bekerja di bidang yang sangat-sangat jauh dari passion yang kita idam-idamkan. Yah.. setidaknya kita bersyukur karena kita masih punya gaji tetap yang jumlahnya cukup walaupun kata “cukup” itu sebenarnya relatif. Dan untuk makan kita tidak perlu mengais-ngais dari tempat sampah atau mengharap-harap belas kasihan orang lain karena kita bisa membelinya. Bersyukur cenderung membuat kita jadi lebih nyaman dengan apa yang kita jalani, setidaknya sampai kita punya cukup bekal untuk berdiri sendiri dan mampu membuat pilihan kita sendiri.

Lebih bersyukurlah orang-orang yang sudah bekerja sesuai dengan passionnya masing-masing. Melakukan hal-hal yang disenangi dan dapat uang, yang notabene tanpa digaji sekalipun akan dengan sangat senang hati dilakukan. Bersyukurlah karena di luar sana masih banyak orang yang harus melacurkan passion dan idealismenya pada “kemapanan” demi sebatas agar bisa survive. Camkan itu ki sanak.
Passion ya pasion, kerja ya kerja buat survive…

*Teruntuk Kita semua yang masih terus menggerutu karena kerja di bidang yang melenceng jauh dari passionnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s