Kepada Anakku…., ini Bukan Tulisan Picisan Seperti yang Sudah-sudah

Posted: 2 April 2015 in Lagi Kepengen Nulis

Anakku, tulisan ini Ayah tulis bukan dalam rangka ingin menjadi seorang

ayah yang memiliki rasa sensitifitas tinggi layaknya orang-orang yang berada di balik tulisan “Surat kepada Calon Menantuku”, “Sebelum Kau Menikahi Putriku”, “Jika Pasanganmu Hidupmu adalah Seorang Pengedar Cimeng”, dan sebagainya. Bukan, sama sekali bukan. Lagi pula kami tidak ingin kamu kelak tumbuh dewasa dengan berpedoman pada hal-hal picisan semacam itu.

Ayah hanya ingin saat suatu hari nanti kamu tumbuh dewasa, dan tulisan ini masih ada, kamu bisa membacanya sendiri baik-baik dan menilai orang tua macam apakah kami ini.

Kadang ketika kamu tidur, kami berdua, Ayah dan Ibu sering memandangi lekat-lekat wajah mungilmu dan bertanya dalam hati apakah yang sudah kami lakukan untukmu sudah benar, apakah perlakuan kami kepadamu sudah sesuai dengan yang seharusnya orang tua lakukan terhadap anaknya ?. Pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa terjawab karena Sekarang kamu hanya bisa mengungkapkan semuanya lewat tangis ketika merasa tidak nyaman dan tersenyum ketika merasa senang.

Sejauh ini kami berdua sudah berusaha melakukan hal yang menurut kami paling baik untukmu. Walaupun kelak ketika kamu tumbuh dewasa dan kamu mulai bisa protes kami akhirnya tahu bahwa apa yang kami kira terbaik bagi kami ternyata kadang tidak sejalan dengan keinginanmu.

Ada orang tua yang (mungkin) begitu kelewat otoriter, yang ketika anaknya lahir langsung dilabeli dengan label “cita-cita : Motivator”. Yang barangkali si anak ketika dewasa ingin menjadi seperti seorang Steven Spielberg atau bahkan mungkin Varg Vikerness.

Ada pula orang tua yang kelewat liberal, sampai-sampai tidak mengenalkan agama ke anak dengan alasan si anak berhak memilih agamanya sendiri sesuai dengan keinginannya ketika dewasa kelak.

Nak, kami berdua tidak ingin menjadi seperti itu. Kami berdua tidak akan membesarkanmu dalam kekangan otoriter ataupun membiarkanmu tersesat dalam dogma-dogma liberal. Kami sadar, kami berdua adalah orang tua baru yang masih sama-sama belajar mengurus anak, yang ketika kamu baru dilahirkan Ayah sering mengetikkan keyword “How to Handle a Newborn Baby” di youtube untuk sekedar menggantikanmu popok.

Kehadiranmu juga membuat kami belajar hal lain yang tidak ada dalam kritetia keyword “How to Bla… Bla… Bla…”  di Youtube, Yaitu belajar menghargai hak-hakmu sebagai seorang individu baru. Yang mana dalam hal ini kami harus meredam ego kami dan memfilter setiap omongan-omongan orang terkait apa yang harus kami lakukan terhadapmu sebagai bayi mungil kami.

Kadang kami sering beradu argumen dengan orang-orang yang protes kenapa bayi sekecil kamu jarang dibedong, atau yang lebih berat lagi adalah perkara kenapa seorang bayi perempuan sepertimu telinganya tidak bolong ditindik. Dan sederet “Seharusnya” lainnya yang tidak punya dasar yang jelas.

Kamu tidak seharusnya dibedong sepanjang waktu ketika kami sadar bahwa kamu ternyata terlihat lebih nyaman tanpa kain yang melilit-lilit tubuhmu, dan daun telingamu juga tidak perlu ditindik karena kami sadar bahwa melubangi daun telingamu adalah salah satu cara kami merebut hak-hakmu sebagai seorang individu dengan menyakitkan.

Menurut kami, menindik telingamu ialah salah satu bentuk menjalankan ibadah “seharusnya” yang diciptakan oleh orang-orang yang sudah terlanjur hidup pada kultur “Seharusnya”, dan kami menolak menjadi bagian dari kultur “seharusnya” tanpa dasar yang jelas.

Banyak orang yang yang beranggapan bahwa ditindik sewaktu masih bayi lebih baik dari pada ditindik saat si anak dewasa. Tapi kami berprinsip bahwa perkara bolong membolongi kuping ini lebih baik dilakukan ketika kamu sudah cukup mengerti dan bisa menentukan pilihan apakah telingamu mau ditindik atau tidak.

Jikalau perkara bolong membolongi kuping itu adalah perkara estetika atau perkara cantik-cantikan yang sifatnya relatif, kami sebagai orang tua menolak mentah-mentah menyakiti bayi mungil kami atas nama estetika. Yang mungkin bisa jadi ketika kamu dewasa kamu merasa bahwa bolongan di daun telingamu itu hal yang useless.

Jikalau orang mempermasalahkan tindik dan anting-anting adalah sebagai identitas gender, maka Identitas dan generalisasi gender juga tidak sekedar tentang anting-anting. Kami sebagai orang tua Insya Alloh masih bisa mendidikmu untuk mengenakan pakaian sebagai seorang wanita muslim yang taat dan hal itu jauh lebih berdasar serta lebih bermanfaat dibanding sekedar ambil bagian dalam kultur “seharusnya”.

Sejauh ini kami suah berusaha belajar menjadi orang tua yang seharusnya. Mungkin suatu saat nanti kita tetap akan berselisih karena keinginan kami yang mungkin tidak sejalan dengan keinginanmu. Tapi kami tetaplah orang tua yang sama seperti orang tua – orang tua lainnya yang selalu ingin hal-hal terbaik untuk anaknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s