Fanatisme Sepak Bola

Posted: 22 September 2016 in Lagi Kepengen Nulis
Tag:,

Saya, yang (sebenarnya) adalah seorang lelaki tulen memang terlihat jadi seperti seorang laki-laki yang tidak tulen lantaran saya tidak jago dalam olah raga apapun. Pernah mencoba menekuni olah raga mulai dari Sepak bola, skateboard, hingga ke pencak silat namun hati ini tak juga tertambat ke salah satunya. Semuanya tidak ada yang sreg, kalaupun agak sreg Cuma sekedar dilakoni setengah-setengah. Mungkin jika main photoshop atau tengkurapan di depan laptop sambil nonton film download-an itu dapat dikatagorikan sebagai olahraga, maka saya haqqul yakin akan terus menekuni olahraga tersebut hingga

level professional dan berkarir di kancah internasional.

Memang sangat-sangat tidak bijak apabila kita mengait-ngaitkan sepak bola dengan kelaki-lakian seseorang. Lah… bisa saja dia tidak suka sepak bola tapi dia adalah maniak petarung bebas dimana wajah bonyok berdarah-darah dan memar adalah hal wajib di setiap aksinya ?, bisa saja dia tidak suka sepak bola tapi hobi bersolo riding berpetualang menyusuri daerah-daerah antah berantah dengan resiko-resiko tinggi dan tak terduga?, bisa saja dia tidak suka sepak bola tapi dia tahan menjomblo di hampir sepertiga abad umurnya, dan ikhlas melepas dirinya bersama pria pilihan hatinya dan tetap berdo’a yang terbaik untuknya ? (Waini kurang kuat apa lagi ?), bisa saja dia tidak suka sepak bola tapi dia rajin ke salon untuk sulam alis dan perawatan bulu mata serta paket perawatan kecantikan tubuh lainya ? (Uopo iki ???).

Bicara masalah sepak bola, tidak usah ditanya. Saya yang memang tidak hobi dengan olahraga satu itu sudah jelas tidak punya klub favorit yang bisa saya bangga-banggakan dan nama julukan fans tersebut saya jadikan nama imbuhan dalam akun sosmed saya dan klub junjungan saya tersebut saya bela mati-matian manakala klub favorit saya yang suci itu dihina dinakan di depan khalayak ramai atau sekedar dicela dalam bentuk celetukan yang sifatnya pribadi.

“Suka sepak bola sekarang sudah kaya orang beragama. Yang nggak suka sepak bola dibilangnya Atheis dan yang suka bola tapi nggak punya klub favorit dibilang agnostik. Klub-klub dengan jumlah fans minoritas harus minta ijin dulu ke fanbase klub yang mayoritas kalo mau bikin fanbase di daerah situ. Saking banyaknya, pendukung tim-tim besar seperti MU sudah saling berpacah belah, ada Front Pembela MU, dan ada jamaah MU Liberal”.

Kurang lebih seperti itulah celoteh samy @notaslimboy dalam bukunya yang berjudul “Kelakar Tanpa Batas”,

Memang benar demikian adanya. Hidup di Indonesia sebagai seorang lelaki yang tidak punya klub sepak bola eropa favorit memang agak susah. Miskin pergaulan, terutama saat perhelatan sepak bola akbar tengah berlangsung seperti piala dunia, euro, liga champions, dan lain-lain. Kebanggaan akan klub sepak bola eropa Mungkin juga disebabkan carut-marutnya persepakbolaan dalam negeri sehingga timnas kita jadi nihil prestasi dan hal tersebut berimbas pada beralihnya cinta masyarakat kita kepada persepakbolaan di ranah Eropa yang lebih menarik. Yah tidak apalah, karena mungkin rakyat Indonesia tercinta ini memanng miskin hal yang bisa dibangga-banggakan makanya mereka beralih membanggakan hal-hal yang ada di belahan dada eh… dunia lain sana. Tak heran mana kala Kak Lio Halyanto dipinang oleh Manor Racing sebagai Pay Driver (Lah ini giamana ?, kita yang dipinang kok kita juga yang harus mbayar mahar) sebagian besar masyarakat kita turut berbangga hati karena ada anak bangsa yang nyupir di F1. Saking bangganya mereka tidak berkeberatan apabila sebagian kecil APBN yang berjumlah ratusan milyar dan berasal dari uang mereka sendiri diberikan kepada kak Lio sebagai mahar untuk Manor Racing. Sebuah kebanggaan yang kalo dipikir-pikir sangat tidak perlu. Sebuah kebanggaan yang tidak bisa dipake buat bayar SPP anak, beli beras, bayar listrik, tunggakan kontrakan, dan mahar kawin lagi. Hikz…!!

Ketiadaan rasa saya terhadap sepak bola berubah ketika beberapa tahun lalu saya menemukan klub sepak bola liga Inggris yang menurut saya sangat keren dan lain dari pada yang lain atau nyeleneh kalau saya bilang. Bukan, kali ini saya tidak akan bicara teknik, prestasi, skill, manajemen, pemain, pelatih, WAGS, dan tetek bengek hal-hal standar yang dibicarakan orang tentang sepak bola. Klub itu adalah Blackburn Rovers, sebuah klub tidak terkenal penghuni kasta kedua liga inggris. Bagi penikmat liga Inggris generasi 90-an awal mungkin sedikit banyak tahu tentang klub ini, mengingat klub ini pernah menjadi klub kuda hitam yang tiba-tiba muncul menjadi jawara Liga Premier Inggris Tahun 1995, tak ubahnya Leicester City sang champion tak terprediksi di Liga Premier Inggris tahun 2016.

Jika bukan tentang teknik, prestasi, skill, manajemen, pemain, pelatih dan WAGS, lantas apa ?

Saya suka dengan klub ini karena logonya. Ya, logo klub ini sangat unik, lain dari pada yang lain dan nyeleneh untuk ukuran sebuah logo klub sepak bola profesional. Logo klub ini adalah sekuntum mawar merah di dalam lingkaran bertuliskan BLACKBURN ROVERS FC 1875, dan tulisan bahasa latin di bawahnya yang berbunyi ARTE ET LABORE yang artinya adalah Sekuntum Mawar Merah “Dengan Skill dan Kerja Keras”. Suka sepak bola karena logonya unik adalah suatu yang wajar-wajar saja, sama seperti mbak-mbak yang nonton bola karena pemainnya ganteng atau mas-mas nonton sepak bola wanita karena pemainnya cuantik-cuantik atau juga mas-mas yang suka nonton bola karena pemainnya ganteng-ganteng (serius, laki-laki tipe beginian memang ada. Waspadalah kawan). Semua orang punya caranya masing-masing untuk menyukai sepak bola.

 

blackburn

 

Sekilas logo Blackburn Rovers ini mengingatkan kita akan sebuah brand pabrikan tepung beras dan dengan ikon masak-memasak dekade 90-an Ibu Sisca Soewitomo (Terimakasih google, kini kita bisa menuliskan ejaan nama seorang public figure degan tepat) yang bisa membuat masakan apapun dalam waktu 5 menit dari balik meja lengkap dengan garnish dan hiasan-hiasan yang cantik. “Yak… ini adalah contoh yang sudah jadi pemirsa”. Namun faktanya klub ini tidak memiliki afiliasi apapun dengan perusahaan produsen tepung tersebut layaknya klub bola PSV Eindhoven dan Bayer Liverkusen yang masing-masing disokong oleh perusahaan PHILIPS dan BAYER. Lagipula sungguh tak terbayangkan kalau memang benar Blackburn Rovers ini adalah Klub milik pabrikan tepung tadi. Bisa jadi Pemain, Pelatih, serta Official akan terus terpenuhi kebutuhan pangannya dengan beraneka penganan dari tepug beras dan tepung ketan seperti cucur, surabi, talam, putu, dan kawan-kawan selama duduk di bangku cadangan.

tepung20beras20rose

Bicara tentang logo klub sepak bola, Bundes Liga atau Liga Sepak Bola Jerman memiliki logo yang menurut saya keren dan minimalis. Tidak banyak menampilkan simbol-simbol, kebanyakan hanya didominasi tulisan-tulisan atau huruf. Contohnya adalah logo milik Klub Bayern Munchen, Borussia Dortmund (Tak tau pula aku lae, itu siapanya Boru Nababan), dan Schalke. Tapi tetap sih, yang menurut saya paling keren adalah logo klub Blackburn Rovers. Logonya simple, Apa adanya, Jujur, dan tidak sok macho seperti laki laki kebanyakan (walah!). Untuk mengaktualisasikan kesukaan saya tersebut, akhirnya saya membeli satu lembar jersey KW Blackburn Rovers dari kaskus yang saat itupun stoknya sudah sangat langka. Hal tersebut sudah jelas disebabkan perkara keuntungan bisnis. Para bakul jersey lebih memilih bakulan jersey yang lebih menjual dari klub-klun terkenal seperti emyu, barca, rel madrid, liverpul dan kawan-kawannya ketimbang menjual jersey dari klub yang tidak jelas juntrungannya. Dan hingga saat ini jersey Blackburn Rovers jadi satu-satunya jersey sepak bola yang pernah saya beli dan satu-satunya jersey klub bola yang pernah saya punya.

Sebagai fans Blackburn Rovers yang Cuma ngefans sama logonya saja, rasanya sungguh kurang afdhol kalau kalau saya belum pernah nonton pertandingan Blackburn Rovers di TV. Minimal saya jadi ngerti kalo orang yang kerjanya lari-larian di pinggir lapangan sambil bawa bendera kecil itu bukan bagian dari tim, itu hakim garis. Waktu itu saya sempatkan menonton via streaming salah satu pertadingan Blackburn Rovers VS Arsenal yang kebetulan saat itu berlaga di kandang Arsenal tahun 2013 lalu. Saya paham, klub yang saya idolakan itu adalah klub bukan papan atas dan bukan level Arsenal, terlebih laga tersebut dilaksanakan di kandang Arsenal. Tapi tak disangka Blackburn Rovers malah menang 1-0 (cek youtube kalo nggak percaya) dan mungkin itulah pertama dan terakhir kalinya saya punya kesempatan untuk membully para fans garis keras Arsenal.

Itulah kali pertama saya nonton liga inggris (lebih tepatnya FA Cup) dengan niat sebenar-benarnya pengen nonton bola dan sampai saat ini saya belum pernah lagi nonton bola dengan niat sebener benernya pengen nonton seperti saya menonton pertandingan Blackburn Rovers VS Arsenal Waktu Itu. Menyukai sebuah klub sepak bola papan bawah adalah sebuah rasa cinta yang tulus dengan level yang sudah sangat tinggi. Kita tahu tim favorit kita jelek dan bakal kalah setiap bertanding. Kita tahu tidak banyak bahkan nyaris tidak ada hal yang bisa kita banggakan dari klub favorit kita. Tapi kita masih suka dan selalu punya alasan untuk tetap suka dengan klub favorit kita. Blackburn Rovers FC memang klub papan bawah, tidak punya pemain bintang dan minim prestasi, tapi logo klubnya keren dan Jersey KW-nya nggak pasaran.

Wassalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s